Ormas Islam Solo Desak Pembentukan Badan Pengawas Kinerja Densus 88 Atau Bubarkan Densus 88

image

SOLO; Ribuan orang yang tergabung dalam kelompok Muslimin Solo Raya (Misra) melakukan aksi di depan Mapolresta Solo, Jawa Tengah, Jumat, 18 Maret. Mereka mendesak pemerintah membentuk badan pengawas kinerja Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.

Koordinator aksi, Abdurrahman Baasyir, mengatakan sudah menjadi rahasia umum jika Densus sering melanggar prosedur saat bekerja. “Perlu segera dibentuk badan pengawas kinerja Densus yang dapat mengawasi kinerja Densus secara ketat. Jika kinerja terus seperti sekarang, bubarkan saja sekalian,” kata dia, usai audiensi dengan sejumlah anggota Kepolisian Resor Kota Solo.

Salah satu arogansi Densus, kata Abdurahman, adalah kasus penangkapan Siyono di Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Cawas, Klaten pada Rabu, 9 Maret. Saat penyidikan, Siyono tewas. Kejadian itu, kata dia, mengundang kemarahan umat muslim.

“Kami minta ketegasan Presiden Jokowi, DPR, dan pihak-pihak terkait untuk mengawasi serta mengevaluasi. Kita juga minta kapolres menyampaikan aspirasi ini kepada Kapolri,” kata dia. Dari beberapa kali aksi yang digelar di Kota Solo, Abdurahman menilai pemerintah sama sekali belum memberikan respon.

Abdurrahman menyatakan akan melakukan sksi yang lebih besar dengan massa yang lebih banyak hingga pemerintah mengabulkan tuntutan mereka. Keluarga korban-korban Densus, tambah dia, akan didorong untuk mau dan berani melakukan upaya hukum.

Kapolres Kota Solo, Kombes Pol Achmad Luthfi tak menanggapi tuntutan Misra. Dia hanya berjanji akan meneruskan tuntutan itu kepada pimpinannya yang lebih tinggi.

Dia justru hanya mengimbau agar masyarakat tertib. “Ini merupakan suatu bentuk demokrasi masyarakat kita. Yang harus kita kedepankan adalah kamtibnas, aksi tetap tertib, tidak ada pelanggaran. Ini yang patut kita apresiasi,” kata dia. 


Desakan kepada pemerintah untuk membubarkan Detasemen Khusus 88 Anti Teror terus berlanjut di Kota Solo. Setelah berunjuk rasa di Bundaran Gladag awal pekan lalu, ratusan umat Islam gabungan dari berbagai ormas mendatangi Mapolresta Surakarta Jumat sore, 18 Maret.

Penolakan terhadap Densus ini sebagai reaksi atas tewasnya dua orang terduga teroris di Solo dan sekitarnya berturut-turut dalam dua pekan yaitu Fonda Amar Solihin dan Siyono. Fonda, warga Brengosan, Purwosari, Solo, dilaporkan tewas tertembak dalam operasi gabungan TNI-Polri di Poso, 28 Februari. Jenazahnya baru dimakamkan hari ini. Sedangkan, Siyono warga Brengkungan, Cawas, Klaten, dilaporkan meninggal saat menjalani pemeriksaan oleh Densus pada 11 Maret.

Tim pembela muslim dari The Islamic Study and Action Center (ISAC) Solo menemukan sejumlah luka yang diduga merupakan indikasi penyiksaan terhadap keduanya sebelum mereka tewas. Fonda, misalnya, kehilangan kedua gigi depan atas-bawah, sementara Siyono mengalami luka bagian belakang, mata dan kedua kaki akibat benturan benda tumpul.

Sebelumnya, ISAC juga mendapati dua orang warga Solo yang ditangkap Densus pada Desember tahun lalu, Andika Bagus Setyawan, siwa kelas dua SMA terduga jaringan Ibad dan Hamzah. Mereka berdua diduga mengalami siksaan berat selama ditahan Densus 88.

Kematian Siyono menimbulkan tanda tanya dari berbagai pihak, seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KomnasHAM), Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), dan organisasi Islam tertua di Indonesia Muhammadiyah. Mereka mencurigai adanya ketidakberesan dalam prosedur pemeriksaan terduga teroris.

Komandan Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Edi Lukito menantang Presiden Joko Widodo untuk membubarkan Densus yang dianggapnya tidak berguna. Mereka mengatakan Densus 88 dibiayai uang rakyat untuk menangkapi, menyiksa, dan membunuh orang Islam.

“Di Solo ada sebuah hotel langganan Densus, di sana para tahanan diinterogasi dengan cara disiksa, dipukul kemaluannya, dan ada pula yang ditembak,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Mu’inudinillah Basri menilai pemerintah gagal menjalankan amanat konstitusi untuk melindungi segenap bangsa Indonesia. Menurut doktor lulusan Universitas King Saud itu, pemerintah membasmi teroris dengan cara menciptakan terorisme baru. Karena iming-iming bantuan dana asing, negara tega menghabisi nyawa anak bangsanya sendiri yang belum tentu terbukti bersalah.

“Tidak masuk akal, Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia lalu mereka ingin membuat kerusakan di negaranya sendiri. Kita setuju pemberantasan terorisme, tetapi tidak dengan cara semena-mena membunuhi orang,” kata Direktur Pondok Pesantren Tahfizul Quran Ibnu Abbas Klaten itu

Sun, 20 Mar 2016 @18:23


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

www.solorayanews.com
image

Solo Raya News

0816676507


Inspirasi Kebangkitan Rakyat
Tamu Kami

Kalender

SERBA SAPI MAS JOKO LEMBU
image

Jl. Penjalinan Godegan, Mojolegi, Teras

( Depan PT. Hanil Indonesia )

 

DAFTAR MENU

Tengkleng                  Rp. 15.000,-

Tongseng                   Rp. 15.000,-

Gule                              Rp. 10.000,-

Oseng Oseng Kikil     Rp. 10.000,-

Kare Bayam Sapi        Rp. 8.000,-

Oseng Boncis Daging  Rp. 8.000,-

Sop Iga                          Rp. 15.000,-

Sop Buntut                     Rp. 20.000,-

Copyright © 2018 · All Rights Reserved